Trilogi-university.ac.id – Dalam rangka menciptakan layanan psikososial yang efektif, kolaborasi antar instansi pemerintah juga sangat diperlukan.
Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah membawa dampak yang mendalam, bukan hanya terhadap fisik bangunan, namun juga psikologis para siswa yang menghadapi trauma. Komisi X DPR RI menekankan pentingnya penanganan yang komprehensif untuk memastikan bahwa pemulihan pasca-bencana tidak hanya terfokus pada kebangkitan fisik tetapi juga kesehatan jiwa anak-anak yang menjadi korban. Dalam konteks ini, perlu adanya layanan psikososial yang sistematis bagi para siswa terdampak.
Penanganan Psikososial: Aspek yang Sering Terabaikan
Setelah kejadian bencana, perhatian banyak pihak cenderung terfokus pada perbaikan infrastruktur, seperti membangun kembali sekolah yang rusak. Namun, dalam pandangan Wakil Ketua Komisi X, Kurniasih Mufidayati, tindakan ini tidaklah cukup. “Proses belajar mengajar tidak akan berjalan normal jika kita hanya memperbaiki bangunan. Anak-anak juga kehilangan rasa aman dan perlu dukungan psikologis untuk memulihkan kondisi mereka,” ujarnya. Ini mencerminkan sebuah kenyataan bahwa penanganan pascabencana harus menyentuh berbagai dimensi kehidupan siswa.
Kesehatan Mental: Prioritas Utama
Siswa yang menjadi korban bencana sering mengalami berbagai tekanan psikologis yang dapat memengaruhi kemampuan belajar mereka. Kurniasih menekankan bahwa layanan psikososial harus menjadi prioritas utama. Bentuk dukungan ini bisa berupa konseling, terapi kelompok, hingga kegiatan-kegiatan yang dapat membantu membangun kembali kepercayaan diri dan rasa aman di kalangan siswa. Lingkungan sekolah harus kembali menjadi tempat yang mendukung dan menenangkan agar siswa bisa beradaptasi dengan situasi baru mereka.
Keterlibatan Pemerintah dan Masyarakat
Pemerintah memiliki peran vital dalam memastikan layanan ini tersedia dan di akses oleh semua siswa. Selain menyediakan anggaran untuk tahap rehabilitasi psikologis, penting juga untuk melibatkan berbagai pihak, seperti psikolog, dosen, dan relawan, dalam proses penyediaan layanan. Keterlibatan masyarakat lokal juga tak kalah penting, karena mereka dapat memberikan dukungan emosional yang penting bagi siswa dalam proses pemulihan.
Pendidikan dan Kesadaran Publik
Pendidikan tentang kesehatan mental juga harus menjadi bagian dari kurikulum di sekolah-sekolah yang mengalami dampak. Dengan meningkatkan kesadaran tentang isu-isu psikologis, baik bagi siswa maupun tenaga pendidik. Di harapkan akan tercipta lingkungan yang lebih inklusif dan memahami kondisi masing-masing siswa. Pengembangan kurikulum ini perlu di awasi oleh dinas pendidikan dan psikolog agar memastikan bahwa materi yang di sampaikan relevan dan bermanfaat.
Mendorong Kolaborasi antar Instansi
Dalam rangka menciptakan layanan psikososial yang efektif, kolaborasi antar instansi pemerintah juga sangat di perlukan. Kementerian Pendidikan, Kementerian Sosial, dan Kementerian Kesehatan harus bersinergi dalam merancang program yang mendukung pemulihan siswa. Pengintegrasian data tentang siswa yang membutuhkan layanan dalam pengambilan keputusan juga sangat penting. Karena ini membantu memastikan bahwa mereka yang paling membutuhkan sebenarnya dapat terlayani dengan baik.
Empowerment Alih Fungsi Sekolah
Selain rehabilitasi fisik dan psikologis, pendekatan pembelajaran yang fleksibel juga perlu diperkenalkan. Sekolah-sekolah dapat diubah fungsinya menjadi pusat pelayanan intervensi psikologis di daerah terdampak bencana. Dengan demikian, sekolah tidak hanya kembali berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai pusat pemulihan psikologis bagi siswa dan masyarakat yang terdampak.
Kesimpulan: Menuju Pemulihan Holistik
Pemulihan pascabencana memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Kita tidak bisa hanya fokus pada membangun kembali gedung-gedung, tetapi juga harus memberi perhatian pada kesehatan mental anak-anak yang terlihat kuat di luar namun mungkin sangat rentan di dalam. Layanan psikososial bukanlah suatu opsional, tetapi sebuah kebutuhan mendesak. Ketika pemerintah, masyarakat, dan edukator bersinergi untuk memberikan dukungan yang komprehensif, maka rasa aman dan keberanian para siswa untuk kembali belajar dan beraktifitas akan terbangun kembali. Inilah saatnya bagi kita untuk benar-benar memikirkan generasi mendatang dan memastikan mereka tidak hanya selamat dari bencana, tetapi juga dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, meskipun dalam situasi sulit.
