Felda 70 Tahun: Tanah Dimiliki, Generasi Felda Harus Terhubung

CategoriesOutdoors

Memasuki usia 70 tahun, Felda menghadapi tugas baru: memastikan tanah yang telah menjadi milik peneroka tetap produktif dan hubungan antar generasi tidak terputus. Generasi Felda harus kembali memiliki peran jelas terhadap ladang dan komunitas agar warisan sosioekonomi program ini terpelihara.

Ilustrasi generasi felda untuk artikel Felda 70 Tahun: Tanah Dimiliki, Generasi Felda Harus Terhubung

Sejak awal, peneroka membayar kos pembangunan ladang dan penempatan lewat potongan hasil dari tanah seluas 10 ekar yang mereka kelola. Hingga kini lebih 90 peratus peneroka telah menerima hakmilik; negeri Johor tercatat tertinggi dengan pemberian hakmilik mencapai 99.9 peratus. Keberhasilan ini menegaskan bahwa tujuan awal Felda—land for the landless, job for the jobless—telah membuahkan dampak nyata.

Perubahan fokus: dari membuka tanah ke menjaga produktivitas

Pada fase awal, tantangan utama adalah membuka tanah, menempatkan peneroka, dan membangun kehidupan baru. Kini fokus beralih kepada menjaga agar lahan tetap produktif dan menjamin kesinambungan keterlibatan warga Felda. Proses pemulihan aliran tunai, penstrukturan kewangan, dan penguatan institusi menjadi prioritas karena tanpa kestabilan kewangan Felda sulit menjalankan tanggung jawab terhadap peneroka.

Langkah-langkah pemulihan seperti pengambilalihan semula FGV dan bantuan sukuk dari kerajaan memberikan ruang bernafas. Namun upaya ini bukan tujuan akhir: yang paling penting adalah merancang arah institusi supaya peneroka, ladang, komunitas, dan generasi selanjutnya tetap saling terkait dalam 50 tahun mendatang.

Pengurusan ladang dan kewangan: pemisahan akun dan model biaya

Salah satu masalah yang muncul selama ini adalah penggabungan hasil ladang peneroka dengan akaun pengurusan Felda. Praktik itu berkontribusi pada keterlambatan pembayaran hasil dan tunggakan kepada kontraktor, karena Felda menghadapi masalah aliran tunai. Oleh sebab itu, pengasingan akaun kewangan ladang peneroka dari akaun pengurusan Felda harus segera dilaksanakan agar ekonomi komunitas berjalan lancar.

Dalam operasi ladang, model pembayaran berbasis satu kadar tetap per ton hasil diusulkan untuk mengurangi kebingungan ketika biaya operasi berubah-ubah tiap bulan. Sistem ini memudahkan penilaian tuntutan anak perusahaan dan mengurangi risiko tunggakan yang bisa mengganggu kegiatan lapangan.

Selain itu, pilihan pengurusan harus beragam dan adil: ada peneroka yang ingin mengelola sendiri, ada yang memerlukan bantuan penuh Felda, serta generasi muda yang diminati aspek modern seperti mekanisasi, data ladang, koperasi, dan layanan logistik. Semua opsi ini perlu diakomodasi dalam kerangka yang jelas tanpa memandangnya sebagai tanda melepaskan semangat Felda.

Komunitas dan pewarisan: menjaga kehidupan rancangan

Felda lebih dari sekadar lembaga pertanian; ia adalah komunitas berstruktur yang melahirkan institusi sosial, pendidikan, koperasi, dan kehidupan bermasyarakat. Namun kini banyak rancangan dihuni mayoritas warga lanjut usia, rumah peneroka kosong, dan isu pusaka belum tuntas. Jika pewarisan tidak diatur, pengurusan ladang akan rumit dan keterikatan generasi terhadap tanah akan melemah.

Struktur seperti Jawatankuasa Kemajuan dan Keceriaan Rancangan (JKKR) dan Jawatankuasa Pengurusan Ladang Lestari (JPLL) harus diperkuat, termasuk melalui latihan teknikal pengurusan ladang. Selain itu perlu ada ketetapan agar pewaris memiliki komitmen jelas—misalnya menetap atau berperan aktif—supaya komuniti rancangan tetap hidup dan fungsional.

Felda tetap memainkan peran strategik dalam menyediakan minyak sawit yang digunakan luas dalam makanan, tenaga, industri dan farmaseutikal. Agar tidak sekadar dikenang sebagai keberhasilan masa lalu, institusi ini harus menyesuaikan diri dengan teknologi dan kebutuhan industri sambil memastikan tanah tidak terbiar, ladang tetap produktif, dan generasi Felda tersambung dengan akar sosioekonomi keluarga mereka.

Penulis ialah Generasi Ke-2 dan Ke-3 Felda

About the author